Inilah hari yang kami tunggu2 dan pada akhirnya datang juga. Hari H tanggal 16 Mei 2009, adalah titik awal perjalanan kami untuk mengenal lebih dekat pernak-pernik kehidupan di belahan bumi yang lain. Sesuai dengan Time Line yang telah kami buat, kami mulai berkumpul di Markas Bekas 1 jam 03.00 pagi. Disaat semua orang masih terlelap dengan mimpi2 yang indah, kami memwujudkan mimpi yang indah itu menjadi sebuah kenyataan. Rencana kami berangkat menggunakan Airport Bus dari Bekasi jam 03.30, tetapi karena ada sedikit masalah maka perjalanan kami tertunda 30 menit. Kami baru berangkat dari Bekasi jam 04.00, bertolak dari belakang Mal Giant Bekasi. Sampai di bandara Soekarno Hatta Cengkareng sekitar jam 05.15, kami turun di Terminal 2 blok Air Asia. Kami segera ngantri di loket Check In Air Asia yang baru saja di buka. Setelah menyelesaikan Check in, kami menuju loket Bebas Fiskal. Masing2 dari kami mengeluarkan kartu sakti untuk keperluan ini, yaitu kartu NPWP. Satu persatau kartu NPWP kami di cek validitasnya, setelah selesai….dok…dok…..stempel Bebas Fiskalpun kami dapatkan. Setelah menyelesaikan Fiskal, kami menuju loket Imigrasi untuk mendaftarkan kepergian kami ke luar negeri. Satu persatu Passport kami di stempel, tertanda kami terdaftar keluar sementara dari Indonesia. Tinggal s elangkah lagi kami akan menginjakkan kaki ke Pesawat Air Asia yang akan membawa kami terbang meninggalkan Tanah Air tercinta ini.
Cengkareng (CGK) – Kuala Lumpur (LCCT)
Setelah melewati Imigrasi, kami menuju ke Bording Room pesawat. Perjalanan ke Bangkok akan kami tempuh 2 kali penerbangan, yaitu Jakarta – Malaysia dilanjut penerbangan ke-2 Malaysia – Bangkok. Tak lama kami menunggu, panggilan masuk pesawat kami terima. Segera kami bergegas masuk ke pesawat untuk mencari tempat duduk kami. Perjalanan udara akan kami lalui selama kurang lebih 2 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Malaysia dan Indonesia bagian Barat. Waktu Malaysia 1 jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian Barat. Sampai juga akhirnya kami di badara internasional LCCT, waktu menunjukkan jam 09..30 waktu Malaysia. Bandar udara LCCT merupakan markas dari maskapai penerbangan Air Asia. Kami mencoba menghidupkan handphone kami untuk mendapatkan sinyal dari operator setempat. Sedikit promosi, untuk kartu IM3 tidak perlu melakukan registrasi jika digunakan untuk berpergian ke 3 negara asia yaitu Thailand, Malaysia dan Singapura. Begitu menyalakan handphone, kami yang memakai IM3 langsung dapet sinyal dari operator setempat. Begitu pula dengan Telkomsel, teman kami memakai kartu Simpati juga bisa digunakan walaupun sebelumnya harus melakukan registrasi melalui SMS waktu masih di Indonesia. Turun dari pesawat kami menuju Pengambilan Bagasi. Setelah itu kami menuju pintu keluar bandara, sebelum keluar bandara ternyata ada pemeriksaan Imigrasi lagi. Kami diwajibkan menulis form masuk Imigrasi Malaysia, dan stempel masuk Malaysia[un kami dapatkan. Kami keluar dari bandara dan menikmati suasana sekeliling bandara untuk menunggu pesawat kami berikutnya jam 15.00.
Kuala Lumpur (LCCT) – Bangkok (BKK)
Perut yang lapar karena belum sarapan mengiring kami untuk segera mencari makan. Menlihat2 disepanjang bandara terdapat berbagai macam restoran, sampai pada akhirnya mata kami tertuju pada Garden Food yang ada di ujung halaman parkir bandara. Garden Food merupakan food court bandara LCCT, tempatnya cukup nyaman untuk nongkrong dan ngobrol lama. Di tempat ini terdapat berbagai macam menu makanan khas melayu, tak jarang menjumpai makanan yang hampir sama dengan masakan indonesia. Masakan indonesia aslipun dapat ditemui disini, yaitu Masakan Padang. Setelah selesai makan pagi menjelang siang, kami habiskan waktu dengan nongkrong di halte bus bandara LCCT. Ada yang tiduran, ada yang asyik d engerin musik, ada pula yang asyik menikmati asap rokok. Jam 13.30 kami masuk lagi ke Terminal Keberangkatan untuk Check in penerbangan selanjutnya yaitu LCCT – Bangkok. Selesai Check in kami langsung menuju ke Gate keberangkatan, dan seperti biasanya kami harus mengisi Form Imigrasi keluar dari malaysia. Menunggu lagi dan lagi, akhirnya jam 3 sorepun tiba dan panggilan masuk ke Pesawatpun sudah kami dengar. Perjalanan dari LCCT ke Bangkok ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Kuala Lumpur dan Bangkok, dimana waktu Bangkok 1 jam lebih lambat daripada waktu Kuala Lumpur. Memang aneh untuk masalah pembagian waktu di malaysia. Sebenarnya Kuala Lumpur segaris bujur dengan Bangkok dan jakarta untuk pembagian daerah waktu, tapi gara2 malaysia memiliki wilayah di serawak maka waktunya mengikuti GMT+8 atau seperti waktu indonesia bagian tengah. Setelah satu jam lebih perjalanan udara, akhirnya kami sampai juga di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Bandar udaranya unik dan cukup besar. Keluar dari Pesawat kami kagum dengan arsitektur di dalam bandara yang sangat menarik dan khas thailand. Selanjutnya kami menuju loket Imigrasi, dan seperti biasanya mengisi Form Imigrasi Masuk Thailand. Kami sempat ada masalah ketika mengisi form imigrasi, pendatang wajib membubuhkan alamat tempat tinggal sementara di Thailand. Padahal kami belum membooking Hostel sebelumnya, tapi kami isi dengan alamat Hostel yang rencananya memang akan kami kunjungi. Lolos dari Imigrasi Thailand, kami menuju pengambilan bagasi.
Bandara Suvarnabhumi – Hostel Suk 11
Sambil menunggu bagasi, kami menukarkan mata uang Baht Thailand yang kami bawa dari Indonesia menjadi pecahan yang lebih kecil. Di Bandara Suvarnabhumi memang disediakan Money Changer di dalam bandara, tepatnya di belakang loket Imigrasi. Kebetulan kami memang tidak memiliki Baht dengan pecahan kecil, yang kami bawa semuanya adalah 1000 baht atau setara dengan 300.000 rupiah. Kami mencoba menukarkan 5 lembar mata uang kami, tapi ternyata ada batas maksimum penukaran uang yaitu 2000 baht. Selesai mengambil bagasi, kami segera keluar dari bandara untuk mencari Taksi. Kami keluar melalui pintu/gate 10, baru saja keluar kami langsung ditawari paket tour keliling bangkok. Luamayan lah buat latihan ngobrol dan negosiasi dengan bahasa inggris walau endingnya kami gak bakalan ngambil tuh paket. Satu keuntungan kami ngobrol dengan ibu2 travel agent yang cerewet abis itu, salah satu teman kami “nyolong” browsur yang berisi map bangkok dan tempat2 wisata di bangkok. Gak tau memang browsur itu gratis untuk umum atau tidak, yang jelas dengan browsur tersebut kami benar2 tertolong untuk merencanakan perjalanan berikutnya. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan rasa terima kasih dan mohon maaf kkarena tidak bisa ambil paket tour tersebut dengan alasan biaya yang terlalu mahal, kami segera keluar dan mencari Taksi. Sampai di luar bandara kami bertemu dengan agen Taksi. Setelah bernegosiasi dengan agen taksi, kami memutuskan untuk memilih taksi besar yang muat 6 orang penumpang. Tujuan kami adalah Hostel SUK 11 yang terletak di Jl Sukumvit 11. Kami diberikan kertas semacam kwitansi yang berisikan tempat tujuan dan biaya perjalanan sampai di tempat tujuan. Pembayaran dilakukan setelah kami sampai tujuan. Biaya yang kami keluarkan adalah 700 baht atau sekitar 210 ribu rupiah. kalau di itung2 cukup murah, karena jika di bagi 6 orang hanya sekitar 35 ribu rupiah. Setelah perjalanan selama 40 menit, kami sampai di Jalan Sukhumvit 11. Taksipun berjalan pelan2 sambil mengamati sekeliling untuk menemukan Hostel Suk 11. Dengan bermodal “Browsur Malingan” tadi, akhirnya kami menemukan Hostel tersebut. Ternyata letak hostel tersebut di belakang minimarket 7 Eleven, lokasinya berada di deretan ruko di belakang minimarket tersebut. Sebelum masuk ke Hostel kami sempet ragu dengan penampilannya, kumuh dan berantakan. Segera kami masuk dan menanyakan kamar kosong untuk 6 orang ke pelayan hostel. Dengan ramah pelayan menanyakan ke kami, apakah kami sudah booking sebelumnya via kartu kredit. Dan memang kami backpacker pemula dan kere, sehingga kami belum melakukan booking kamar sebelumnya. Tapi untungnya masih ada kamar yang kosong untuk kami. Kami memilih 2 kamar dengan tipe Triple Bed untuk 3 orang. Satu hal yang kami kagumi disini, pelayanan begitu ramah dan profesional walaupun hostelnya tak berbintang dan murah. Dan yang menarik lagi, kami disuruh mencari kamar kami sendiri di lantai 3. Benar2 Hostel untuk Backpacker, semuanya serba mandiri. Hostel Suk 11 merupakan penginapan bagi para backpacker yang biasanya memiliki budget yang rendah untuk berpergian ke luar negeri. Hostel ini menawarkan berbagai macam tipe kamar, mulai dari single private room dampay tipe Dorm. Untuk tipe Dorm, kita bisa menyewa satu tempat tidur dan sekamar dengan orang lain. Sampai dikamar, kami mulai merencanakan objek yang akan kami kunjungi selama di Bangkok. Yang pertama adalah Suan Lum Night Bazaar, yaitu tempat nongkrong yang berisi pasar malam, kafe dan juga hiburan live music. Tempat yang wajib dikunjungi ketika kita berada di bangkok.
Rincian Biaya :
Bus Bandara Bekasi – Cengkareng : Rp. 28.000,-
Air Port Tax Bandara Soekarno Hatta : Rp. 150.000,-
Makan di Garden Food : RM 6 / orang atau sekitar Rp. 18.000,-
Taksi Suvarnabhumi – Hostel : B 700,- /6 orang atau sekitar Rp. 210.000,- /6 orang
Hostel Triple Bed : B 900,- / 3 orang atau sekitar Rp. 270.000,- / 3orang












Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.
Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi.
Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.





Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.
Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.
Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.




Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.


















































