Posted by: engineear | August 29, 2009

Hari H : Perjalanan Jakarta – Bangkok

Keberangkatan dari Markas Bekas1

Inilah hari yang kami tunggu2 dan pada akhirnya datang juga. Hari H tanggal 16 Mei 2009, adalah titik awal perjalanan kami untuk mengenal lebih dekat pernak-pernik kehidupan di belahan bumi yang lain. Sesuai dengan Time Line yang telah kami buat, kami mulai berkumpul di Markas Bekas 1 jam 03.00 pagi. Disaat semua orang masih terlelap dengan mimpi2 yang indah, kami memwujudkan mimpi yang indah itu menjadi sebuah kenyataan. Rencana kami berangkat menggunakan Airport Bus dari Bekasi jam 03.30, tetapi karena ada sedikit masalah maka perjalanan kami tertunda 30 menit. Kami baru berangkat dari Bekasi jam 04.00, bertolak dari belakang Mal Giant Bekasi. Sampai di bandara Soekarno Hatta Cengkareng sekitar jam 05.15, kami turun di Terminal 2 blok Air Asia. Kami segera ngantri di loket Check In Air Asia yang baru saja di buka. Setelah menyelesaikan Check in, kami menuju loket Bebas Fiskal. Masing2 dari kami mengeluarkan kartu sakti untuk keperluan ini, yaitu kartu NPWP. Satu persatau kartu NPWP kami di cek validitasnya, setelah selesai….dok…dok…..stempel Bebas Fiskalpun kami dapatkan. Setelah menyelesaikan Fiskal, kami menuju loket Imigrasi untuk mendaftarkan kepergian kami ke luar negeri. Satu persatu Passport kami di stempel, tertanda kami terdaftar keluar sementara dari Indonesia. Tinggal s elangkah lagi kami akan menginjakkan kaki ke Pesawat Air Asia yang akan membawa kami terbang meninggalkan Tanah Air tercinta ini.

Cengkareng (CGK) – Kuala Lumpur (LCCT)

Setelah melewati Imigrasi, kami menuju ke Bording Room pesawat. Perjalanan ke Bangkok akan kami tempuh 2 kali penerbangan, yaitu Jakarta – Malaysia dilanjut penerbangan ke-2 Malaysia – Bangkok. Tak lama kami menunggu, panggilan masuk pesawat kami terima. Segera kami bergegas masuk ke pesawat untuk mencari tempat duduk kami. Perjalanan udara akan kami lalui selama kurang lebih 2 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Malaysia dan Indonesia bagian Barat. Waktu Malaysia 1 jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian Barat. Sampai juga akhirnya kami di badara internasional LCCT, waktu menunjukkan jam 09..30 waktu Malaysia. Bandar udara LCCT merupakan markas dari maskapai penerbangan Air Asia. Kami mencoba menghidupkan handphone kami untuk mendapatkan sinyal dari operator setempat. Sedikit promosi, untuk kartu IM3 tidak perlu melakukan registrasi jika digunakan untuk berpergian ke 3 negara asia yaitu Thailand, Malaysia dan Singapura. Begitu menyalakan handphone, kami yang memakai IM3 langsung dapet sinyal dari operator setempat. Begitu pula dengan Telkomsel, teman kami memakai kartu Simpati juga bisa digunakan walaupun sebelumnya harus melakukan registrasi melalui SMS waktu masih di Indonesia. Turun dari pesawat kami menuju Pengambilan Bagasi. Setelah itu kami menuju pintu keluar bandara, sebelum keluar bandara ternyata ada pemeriksaan Imigrasi lagi. Kami diwajibkan menulis form masuk Imigrasi Malaysia, dan stempel masuk Malaysia[un kami dapatkan. Kami keluar dari bandara dan menikmati suasana sekeliling bandara untuk menunggu pesawat kami berikutnya jam 15.00.

Garden Food LCCTGarden Food LCCT 1

Garden Food LCCT 2Garden Food LCCT 3

Kuala Lumpur (LCCT) – Bangkok (BKK)

Perut yang lapar karena belum sarapan mengiring kami untuk segera mencari makan. Menlihat2 disepanjang bandara terdapat berbagai macam restoran, sampai pada akhirnya mata kami tertuju pada Garden Food yang ada di ujung halaman parkir bandara. Garden Food merupakan food court bandara LCCT, tempatnya cukup nyaman untuk nongkrong dan ngobrol lama. Di tempat ini terdapat berbagai macam menu makanan khas melayu, tak jarang menjumpai makanan yang hampir sama dengan masakan indonesia. Masakan indonesia aslipun dapat ditemui disini, yaitu Masakan Padang. Setelah selesai makan pagi menjelang siang, kami habiskan waktu dengan nongkrong di halte bus bandara LCCT. Ada yang tiduran, ada yang asyik d engerin musik, ada pula yang asyik menikmati asap rokok. Jam 13.30 kami masuk lagi ke Terminal Keberangkatan untuk Check in penerbangan selanjutnya yaitu LCCT – Bangkok. Selesai Check in kami langsung menuju ke Gate keberangkatan, dan seperti biasanya kami harus mengisi Form Imigrasi keluar dari malaysia. Menunggu lagi dan lagi, akhirnya jam 3 sorepun tiba dan panggilan masuk ke Pesawatpun sudah kami dengar. Perjalanan dari LCCT ke Bangkok ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam antara Kuala Lumpur dan Bangkok, dimana waktu Bangkok 1 jam lebih lambat daripada waktu Kuala Lumpur. Memang aneh untuk masalah pembagian waktu di malaysia. Sebenarnya Kuala Lumpur segaris bujur dengan Bangkok dan jakarta untuk pembagian daerah waktu, tapi gara2 malaysia memiliki wilayah di serawak maka waktunya mengikuti GMT+8 atau seperti waktu indonesia bagian tengah. Setelah satu jam lebih perjalanan udara, akhirnya kami sampai juga di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Bandar udaranya unik dan cukup besar. Keluar dari Pesawat kami kagum dengan arsitektur di dalam bandara yang sangat menarik dan khas thailand. Selanjutnya kami menuju loket Imigrasi, dan seperti biasanya mengisi Form Imigrasi Masuk Thailand. Kami sempat ada masalah ketika mengisi form imigrasi, pendatang wajib membubuhkan alamat tempat tinggal sementara di Thailand. Padahal kami belum membooking Hostel sebelumnya, tapi kami isi dengan alamat Hostel yang rencananya memang akan kami kunjungi. Lolos dari Imigrasi Thailand, kami menuju pengambilan bagasi.

Suvarnabhumi BangkokSuvarnabhumi Bangkok 1Suvarnabhumi Bangkok 2

Suvarnabhumi Bangkok 3

Bandara Suvarnabhumi – Hostel Suk 11

Sambil menunggu bagasi, kami menukarkan mata uang Baht Thailand yang kami bawa dari Indonesia menjadi pecahan yang lebih kecil. Di Bandara Suvarnabhumi memang disediakan Money Changer di dalam bandara, tepatnya di belakang loket Imigrasi. Kebetulan kami memang tidak memiliki Baht dengan pecahan kecil, yang kami bawa semuanya adalah 1000 baht atau setara dengan 300.000 rupiah. Kami mencoba menukarkan 5 lembar mata uang kami, tapi ternyata ada batas maksimum penukaran uang yaitu 2000 baht. Selesai mengambil bagasi, kami segera keluar dari bandara untuk mencari Taksi. Kami keluar melalui pintu/gate 10, baru saja keluar kami langsung ditawari paket tour keliling bangkok. Luamayan lah buat latihan ngobrol dan negosiasi dengan bahasa inggris walau endingnya kami gak bakalan ngambil tuh paket. Satu keuntungan kami ngobrol dengan ibu2 travel agent yang cerewet abis itu, salah satu teman kami “nyolong” browsur yang berisi map bangkok dan tempat2 wisata di bangkok. Gak tau memang browsur itu gratis untuk umum atau tidak, yang jelas dengan browsur tersebut kami benar2 tertolong untuk merencanakan perjalanan berikutnya. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan rasa terima kasih dan mohon maaf kkarena tidak bisa ambil paket tour tersebut dengan alasan biaya yang terlalu mahal, kami segera keluar dan mencari Taksi. Sampai di luar bandara kami bertemu dengan agen Taksi. Setelah bernegosiasi dengan agen taksi, kami memutuskan untuk memilih taksi besar yang muat 6 orang penumpang. Tujuan kami adalah Hostel SUK 11 yang terletak di Jl Sukumvit 11. Kami diberikan kertas semacam kwitansi yang berisikan tempat tujuan dan biaya perjalanan sampai di tempat tujuan. Pembayaran dilakukan setelah kami sampai tujuan. Biaya yang kami keluarkan adalah 700 baht atau sekitar 210 ribu rupiah. kalau di itung2 cukup murah, karena jika di bagi 6 orang hanya sekitar 35 ribu rupiah. Setelah perjalanan selama 40 menit, kami sampai di Jalan Sukhumvit 11. Taksipun berjalan pelan2 sambil mengamati sekeliling untuk menemukan Hostel Suk 11. Dengan bermodal “Browsur Malingan” tadi, akhirnya kami menemukan Hostel tersebut. Ternyata letak hostel tersebut di belakang minimarket 7 Eleven, lokasinya berada di deretan ruko di belakang minimarket tersebut. Sebelum masuk ke Hostel kami sempet ragu dengan penampilannya, kumuh dan berantakan. Segera kami masuk dan menanyakan kamar kosong untuk 6 orang ke pelayan hostel. Dengan ramah pelayan menanyakan ke kami, apakah kami sudah booking sebelumnya via kartu kredit. Dan memang kami backpacker pemula dan kere, sehingga kami belum melakukan booking kamar sebelumnya. Tapi untungnya masih ada kamar yang kosong untuk kami. Kami memilih 2 kamar dengan tipe Triple Bed untuk 3 orang. Satu hal yang kami kagumi disini, pelayanan begitu ramah dan profesional walaupun hostelnya tak berbintang dan murah. Dan yang menarik lagi, kami disuruh mencari kamar kami sendiri di lantai 3. Benar2 Hostel untuk Backpacker, semuanya serba mandiri. Hostel Suk 11 merupakan penginapan bagi para backpacker yang biasanya memiliki budget yang rendah untuk berpergian ke luar negeri. Hostel ini menawarkan berbagai macam tipe kamar, mulai dari single private room dampay tipe Dorm. Untuk tipe Dorm, kita bisa menyewa satu tempat tidur dan sekamar dengan orang lain. Sampai dikamar, kami mulai merencanakan objek yang akan kami kunjungi selama di Bangkok. Yang pertama adalah Suan Lum Night Bazaar, yaitu tempat nongkrong yang berisi pasar malam, kafe dan juga hiburan live music. Tempat yang wajib dikunjungi ketika kita berada di bangkok.

Suk 11 Hostel 1Suk 11 Hostel 2


Rincian Biaya :

Bus Bandara Bekasi – Cengkareng : Rp. 28.000,-

Air Port Tax Bandara Soekarno Hatta : Rp. 150.000,-

Makan di Garden Food : RM 6 / orang atau sekitar Rp. 18.000,-

Taksi Suvarnabhumi – Hostel : B 700,- /6 orang atau sekitar Rp. 210.000,- /6 orang

Hostel Triple Bed : B 900,- / 3 orang atau sekitar Rp. 270.000,- / 3orang

Posted by: mantostrip | June 22, 2009

Mahameru : Puncak Abadi Para Dewa

Mahameru 18-20 Mei 2007


Gapai Keangkuhan Puncak Semeru


Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Mahameru 5Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.

Ranu Pane

Mahameru4Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi. Mahameru 6Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.

Ranu Kumbolo

Mahameru 8

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Mahameru 7

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati

Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.

Kubah Pasir Mahameru

Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.mahameru1

Mahameru 2

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane

Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)

Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,

Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “

Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “

Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”

Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”

Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.

Numpang Truk Sayur

Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Mahameru3

Catt:

  1. Dari Jakarta/ Bandung menuju Surabaya dengan KA. Dari Surabaya menuju Terminal Tumpang , Malang (lewat Pasuruan)
  2. Dari Terminal Tumpang menuju Ranu Pane, dengan menyewa mobil (@ IDR 40.000)
  3. Pos –pos : Ranu Pane, Ranu Kumbolo (± 3 jam dari Pos 1), Kali Mati (melewati Tanjakan Cinta & Oro-oro Ombo, ± 4,5 jam dari Pos 2) dan Puncak (± 5 jamdari Pos 3)

Posted by: mantostrip | June 30, 2009

Merapi : Perjuangan antara Hidup dan Mati kami

Merapi 07-08 Juni 2008

Merapi 2

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.

Perjalanan menuju Selo

Merapi 5Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.Merapi 3 Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.

Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu

Merapi6Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.

Pasar Bubrah & Puncak Garuda

Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.

Merapi9

Merapi8

Merapi10

Merapi11

Merapi Kecil

Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami

Merapi12Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.

Selamat dari Tebing Curam

Merapi13Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.

Selamat dari Lautan Pasir

merapi20Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.

Diantara Tebing Runtuh

Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….

Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir

Merapi18Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,

Kembalinya Quartet di Babakan

merapi 21Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….

Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..

Posted by: mantostrip | August 26, 2009

H-3 Bulan : Berawal dari nongkrong di warung kopi

Pencetus Ide

Keinginan untuk jalan2 ke luar negeri sebenarnya datang ketika saya dan chimot sedang nongkrong di warung kopi dekat kost saya di bekasi. Waktu itu Chimot kebetulan sedang tugas dinas di Bandung selema kurang lebih 1 bulan. Dia sengaja maen ke bekasi karena disini memang banyak teman dan mungkin merasa kesepian melewatkan weekend sendirian di Bandung. Sekitar bulan februari waktu itu kalau gk asalah chimot maen ke kost saya. Ngobrol ngalor ngidul tentang petualangan, tiba2 saya menawarkan ajakan untuk jalan2 ke Malaysia. Tambah panjang lagi ngobrolnya, Chimot mengajak yang lebih menantang lagi untuk backpacker ke negeri yang tidak bisa bahasa melayu yaitu Thailand. Ide cemerlang, dari Thailand turun ke bawah, dalam satu perjalanan melewati 3 negara yaitu Thailand, Malaysia dan singapura. Waktu itu saya sudah memiliki passport, sedangkan chimot belum memilikinya. Syarat utama untuk terbang murah ke luar negeri adalah memiliki kartu NPWP, kami berdua kebetulan telah memilikinya. Semakin bersemangat saja membicarakan tema yang satu ini. Waktu sudah cukup malam, perut kamipun keroncongan. Kami lanjutkan pembicaraan di warung kopi sambil menikmati hangatnya indomie rebus. Chimot segera berkeinginan mengurus Passport, sedangkan aku memastikan tiket Air Asia masih terjangkau dan cukup murah. Untuk sementara project ini sudah deal antara Saya dan Chimot, dengan kata lain kami akan melakukan duet Backpacking ke Singapura, Malaysia dan Thailand yang selanjutnya di singkat dengan SMT.

Satu minggu berjalan, komunikasi intensif antara sya dan chimot terus terjalin untuk membicarakan project SMT ini. Kami merencanakan Waktu dan Time Line perjalanan ke object2 yang hendak kami kunjungi. 2 minggu berjalan kami sudah memiliki Draft Time Line perjalanan ke SMT. Sebelumnya kami dipusingkan dengan anggaran pesawat yang cukup mahal diatas 1 juta untuk pulang pergi. Setelah kami rajin mengutak atik jadwal penerbangan, akhirnya kami menemukan komposisi yang tepat dengan menekan anggaran pesawat menjadi di bawah 1 juta rupiah. Pencapaian yang cukup bagus untuk sebuah perjalanan kelas ekstra ekonomi. Setelah selesai menyusun Time Line SMT, kami berdua merencanakan untuk menawarkan ke teman2 seperjuangan yaitu ke Ervan, Son, Purwo dan Edo. Kami mengirimkan Time Line yang kami buat ke mereka semua, dan hasilnya cukup menyenangkan. Tanggapan positip datang dari semua teman2 seperjuangan kami. Akhirnya calon peserta pun bertambah menjadi 6 orang yaitu Saya, chimot, Son, Ervan, Edo dan Purwo. Dari keenam calon peserta tersebut, yang telah meiliki Passport dan pernah berpergian ke luar negeri hanya 2 orang yaitu Saya dan Ervan. Yang memiliki passport tapi belum pernah pergi ke luar negeri ada 2 yaitu Edo dan Purwo. Sedangkan yang belum punya Passport ada 2 pula yaitu Chimot dan Son. Semua orang telah memiliki NPWP untungnya, jadi bebas fiscal untuk penerbangan ke luar negeri. Adapun yang sama sekali belum pernah naik pesawat, yaitu teman kami Edo.

Setelah berdiskusi lewat e-mail berminggu2, akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat Air Asia paling lambat 27 februari 2009 yaitu tanggal habis pembelian tiket promosi yang murah meriah. Kami sempat kebingungan untuk pemesanannya mengingat kami tidam memiliki kartu kredit. Akhirnya kami mencari travel agent terdekat di Bekasi. Ternyata tak jauh dari tempat saya bekerja ada travel agent Air Asia yaitu Multiplus yang siap melayani pembelian tiket secara Cash. Berbondong2 kami mengumpulkan uang yang di transfer ke rekening saya. Waktu itu hari rabu tanggal 25 akalu gak salah, saya menyempatkan ijin keluar kantor sebentar untuk membeli tiket pesawat di agen Multiplus. Saya sendirian mengambil uang Cash di ATM sebesar kurang lebih 6 juta. Tanpa pikir panjang kami langsung membeli tiket yang telah kami incar sebelumnya. Setelah melakukan transaksi selama kurang lebih 2 jam, sayapun bisa bernafas lega dan tersenyum gembira setelah mendapatkan tiket murah Air Asia yang kami inginkan. Perjuangan pertama usai sudah, saatnya melengkapi PR yang masih banyaks. Son dan Chimot sibuk melengkapi persayaratan yang kurang yaitu Passport.

Pembelian Tiket  :
Air Asia    Jakarta – Kuala Lumpur    : Rp. 289,000
Air Asia    Kuala Lumpur – Bangkok :  Rp. 244,000
Air Asia Johor Bahru – Jakarta          : Rp. 365.000
Total Biaya   Pesawat                    : Rp. 898.000,-


The Master

Full Team

Posted by: engineear | August 27, 2009

H-1 Bulan : Penyusunan Time Line Perjalanan SMT

Tiket pesawat sudah terbeli, tak terasa waktu sudah cukup dekat untuk merealisasikan rencana besar Backpacker pertama kali ke luar negeri ini. Son dan Chimot masih belum selesai mengurus Passport, sedangkan yang lain tinggal mempersiapkan mental dan uang saku. Sebulan sebelum keberangkatan, kami mengajukan cuti untuk 4 hari kerja. Kebetulan kami telah memiliki jatah cuti selama 12 hari/tahun, sehingga tidak perlu mbolos kerja. Sementara itu Mantos dan Chimot masih disibukkan dengan penyususan Time Line Perjalanan beserta anggaran biayanya.

Dibawah ini adalah Time Line SMT diluar anggaran biaya Pesawat,

Time Line 1Time Line 2Time Line 3Time Line 4Time Line 5

Posted by: mantostrip | August 29, 2009

H- 1 Minggu : Berburu Baht, Ringgit dan Dolar Singapura

Tiket pesawat pulang pergi telah terbeli dengan harga yang fantastis murahnya. Son dan Chimot telah selesai membuat kartu identisas diri di luar negeri yaitu Passport. Itinerary perjalanan telah selesai di buat dan telah ditentukan anggaran biaya untuk masing2 peserta. Selangkah lagi kami akan benar2 mencapai impian pertama kami backpacker ke luar negeri. Langkah terakhir yang harus kami penuhi adalah, penukaran mata uang Rupiah ke mata uang setempat. Terdapat 3 negara yang akan kami kunjungi, dan setiap negara memiliki mata uang yang berbeda. Sebenarnya kami bisa menukarnya dengan Dollar Amerika dan menukarkan mata uang Dollar ke mata uang setempat, tetapi kami tidak mau mengambil resiko akan kurs yang nantinya malah tidak baik untuk kami. Akhirnya kami membuat rincian biaya untuk masing2 negara. Setelah selesai memilah2 keperluan mata uang untuk masing2 negara, kami menukarkan semuanya ke Money Changer. Rincian biayanya adalah sebagai berikut,

Anggaran Biaya

Dua hari sebelum hari H, Chimot telah mendarat di Markas Besar EngineEAR atau yang sering di sebut Markas Bekas1. Sehari sebelum keberangkatan, giliran Son yang merapat ke Markas. Semua peserta telah berada di Bekasi, malam keberangkatan kami disibukkan dengan pecking perlengkapan pribadi masing2. Son dan Ervan malah sempat menonton Bioskop sampai jam 12 malam. Kami memastikan semua peserta telah menyelesaikan tugasnya masing2 dan siap berangkat di keesokan harinya.

Packing di Markas

” Suasana Packing “

Berantakan banget kan ruanganya :D

Terlihat Son sedang mengamati Kaos Official yang dipakai untuk backpacking ke SMT

Posted by: erugren | September 2, 2009

SMACK DOWN ISLAND – Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

jump

Erugren’s Journal, 15th August 2009, 04:30 AM, Son make some noisy sound to wake up me and Agus. I said “yes” and sleep again. 05:30 AM, I am woke up, then made quacker oat for breakfast.

Dengan semangat membara aku, son, dan agus berjalan menuju MM untuk mencari taxi. Saat itu pukul 06:00 pagi, dan menurut keterangan son perahu ke pulau Pramuka berangkat jam 07:00. Itulah sebabnya kita memilih taxi. Dengan sotoynya Agus menunjukkan jalan lewat sana-lewat sini, dan akhirnya salah jalan, tujuannya adalah pelabuhan muara angke, malah sampai ke muara baru. Dan lagi-lagi dengan ilmu sotoynya kali ini Son mengusulkan menuju pelabuhan marina, ancol untuk naik KL Lumba-lumba.

Sesampainya di ancol, terlihat kapal-kapal pesiar berwarna putih bertebaran, dapat dibayangkan berapa harga sewanya. Setelah bertanya sani-sini ternyata si lumba-lumba tak beroperasi lagi. Nah Loh. Hal ini membuat semangat kami sedikit turun, tetapi karena tak mau malu pulang tanpa hasil, kami tetap mencari pelabuhan muara angke. Kami menuju Grogol dengan busway. Waktu menunjukkan pukul 09:00 dan perut pun berbunyi kelaparan. Kami makan disebuah warung tenda, tampilan tidak meyakinkan, tetapi masakannya enak sekali. Setelah makan, sesuai dengan petunjuk pemilik warung kami pun naik angkot merah menuju Muara Angke.

Yes!!!  Akhirnya sampai di Muara Angke. Dengan bantuan orang akhirnya sampai ke perahu tujuan Pulau Pramuka. Kegembiraan menjadi keraguan saat bertanya pada pemilik kapal, “Pak kapan berangkat?” Jawab si bapak: “Ya kalau penuh berangkat, kalau sepi ya besok?”. Jam demi Jam selama 3 Jam menunggu akhirnya perahu penuh juga. Perahu pun berangkat.

Waktu yang ditempuh menuju pulau Pramuka adalah kurang lebih 2.5 jam, beberapa orang mulai mabuk laut ditengah perjalanan. Untuk mengatasinya minum antimo, atau bawa permen mint dan lihat laut di jendela kapal.

Rencananya kami akan jalan-jalan dahulu di Pulau Pramuka sebelum ke pulau Semak Daun, tetapi karena sudah sore, kami memutuskan langsung ke Pulau Semak Daun (SD). Kebetulan ada ojek antarpulau yang akan kesana. Lama perjalanan ke pulau SD adalah 40 menit.

Perairan di sini sangat jernih, laut terlihat berwarna biru, perairan dekat pantai berwarna biru muda, pasir berwarna putih. Tidak perlu ke luar negeri untuk mencari pantai indah seperti ini. Sangat berlawanan dengan kondisi di laut jakarta yang berwarna coklat dan banyak sampah. Saat sore laut terlihat gemerlap bagai bintang berkedip-kedip akibat pantulan sinar matahari. Beberapa pulau besar sudah penuh dengan rumah-rumah, sedangkan pulau-pulau kecil masih sepi penduduk. Terlihat beberapa perahu berjalan dan pondok-pondok ditengah laut (mungkin tempat mancing).

Sesampainya di pulau semak daun, Agus minta ijin camping pada penjaga pulau. Di Pulau ini ada satu rumah milik penjaga pulau, beliau menjual mie instant dan makanan lain. Juga sudah ada toilet di sini, tetapi airnya asin, jadi kami sarankan bawalah air tawar yang banyak untuk minum, masak dan wudhu. Ada beberapa orang yang sudah mendirikan tenda, aku melihat  sudah ada 5 tenda. Kami pun mencari tempat untuk camping menyusuri pantai. Kami memutuskan camping dekat pantai dimana dapat melihat sunset.

Setelah mendirikan tenda yang baru saya beli itu, kami makan nasi bungkus yang tadi dibeli di Pulau Panggang saat ojek antar pulau mampir ke pulau itu. Sunset pun tiba, sayang agak berawan di bagian horison. Orang-orang pun berduyun-duyun ke pantai kami itu.

Matahari pun terbenam, Agus dan Son menjalankan sholat maghrib. Di dalam tenda sangat panas, aku pergi duduk di dekat pantai. Semilir angin berhembus nikmat. Setelah Agus dan Son selsesai sholat kami menggelar matras di pantai, tidur-tiduran melihat indahnya bintang sambil minum engergen coklat hangat. Beberapa bintang jatuh terlihat di langit yang cerah itu, suatu hal yang tak dapat dilihat di kota yang penuh dengan polusi cahaya dan asap. Sambil menikmati langit kami berbincang-bincang tentang repelita masing-masing. Agus berbicara dia ingin jadi presiden dalam lima tahun, tapi sebenarnya dia “terpenjara” dalam kondisi nyaman saat ini. Son bercerita keinginan dia untuk membuka usaha sandang. Sedangkan aku ingin jadi petani. Kemudian kami membicarakan tentang perlukah uang didunia – suatu perdebatan yang tak pernah selesai.

Setelah cukup malam, kami pindah ke tenda. Sambil makan kacang atom, kami membicarakan hal-hal tak bermutu, sampai tiba-tiba muncul dua mahluk kecil memakan kacang atom yang jatuh. Ternyata mahluk itu adalah kecoa. Kecoa ini bersih, mirip kecoa madagaskar mini, tidak jorok seperti di kota. Kami pun cuek saja. Kemudian Agus dan Son memutuskan tidur, dan aku tidur-tiduran di pantai. Dan ternyata di tenda ada kecoak yang bersembunyi, mereka berdua kalang kabut mencari kecoak itu. Hahahaha.. Setelah ngantuk, aku pun bergabung dengan mereka.

Pagi harinya kami pun langsung mencari spot sunrise. Pantai terlihat lebih luas karena air surut. Matahari terhalang oleh awan di horison, sehingga kami harus menunggu beberapa saat untuk melihat sunrise kesiangan itu. Setelah puas menikmati sunrise kami berputar mengelilingi pulau yang hanya ditempuh dalam 10 menit saja.

Akhirnya jam 10 kami dijemput oleh ojek yang sama dimana kami sudah pesan. Kami pun sampai di Pulau Pramuka kembali. Kami pergi mengelilingi pulau Pramuka ini dengan berjalan kaki. Waktu yang diperlukan adalah 40 menit saja. Di sini kami dapat melihat beberapa penginapan, penangkaran ikan, penangkaran kura-kura, tempat persewaan snorkling dan diving, rumah-rumah penduduk, dan juga sisi yang masih belum ditinggali penduduk.

Berkeliling membuat kami lapar dan berkeringat, kami pun mencari warung makan. Warung yang kami pilih cukup ramai, meskipun menunya sedikit. Seperti yang sudah saya bayangkan, orang-orang tak bisa antri, jadi kami harus aktif. Di sini bukan restoran jadi jangan harap dan jangan kecewa terhadap pelayanannya. Jika ada yang mau investasi silahkan bikin restoran di sini, dijamin laris manis.

Kami pergi ke masjid untuk mandi, tetapi airnya tidak mengalir sama sekali. Kami kembali ke warung tadi dan numpang toilet umum, tetapi airnya juga tidak mengalir. Agus membeli aqua lagi untuk wudhu. Saat adzan dhuhur terdengar kami pergi ke masjid yang tadi. Terlihat air sudah berkucur, tampaknya air dibuka saat-saat sholat untuk wudhu saja. Tapi sayang sekali airnya asin. Kami tidak jadi mandi.

Pukul 01.00 kami pergi ke dermaga untuk pulang ke Muara Angke. Terlihat dermaga penuh dengan banyak orang. Berbeda dengan waktu berangkat dimana kami membayar perahu waktu on board, disini kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket sama. Agus yang pasif lama sekali dapat tiketnya walaupun sudah berdiri didepan tukang jual tiketnya. Rupanya Agus lupa bahwa orang tidak bisa antri dan menganut prinsip siapa cepat dia dapat.

Perahu pertama pun datang. Orang-orang mulai berebut naik sampai-sampai perahu miring. Petugas berkata bahwa akan ada tiga perahu jadi jangan berebut. Tetapi dasar orang-orang yang  egois dan tidak bisa antri, tetap saja ingin naik. Sampai petugas teriak-teriak baru mereka mengerti.

Perahu kedua pun tiba, orang-orang masih berebut naik. Setelah perahu jalan, di dermaga sudah tidak banyak orang. Perahu ketiga agak lama datangnya. Tapi lebih nyaman karena bisa cari posisi PW. Memang orang sabar dikasihi Tuhan. Mesin sempat mati waktu perjalanan tapi puji syukur bisa diatasi dengan cepat. Kami pun tiba di Muara Angke, mampir makan otak-otak (ikan bakar dalam daun dengan bumbu kacang), kemudian pulang.

Waktu bekerja anda menjual hidup anda pada bos anda dengan gaji tiap bulan

Jangan jual semua hidup anda!

Biaya perjalanan:

Busway: Rp. 3500

Angkot Grogol-Muara Angke: Rp. 4000

Perahu Muara Angke-Pulau Pramuka: Rp. 30.000

Ojek Pulau Pramuka-Pulau Semak Daun: Rp. 200.000 (sewa satu perahu)

Ijin berkemah: Rp. 50.000 (Agus memang murah hati)

Pantai

Pantai

Dermaga Semak Daun

Dermaga Semak Daun

Air Laut yang jernih

Air Laut yang jernih

Read More…

Posted by: panghalusnya | August 30, 2009

Semarak 17 Agustus di bumi Pulau Garam

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 3 | 45 |

Pawai_1


Gegap gembita menyambut ulang tahun kemerdekan Republik Indonesia ini dirayakan dengan berbagai macam cara didaerah manapun dipelosok tanah air ini. Tidak terkecuali dibumi Madura ini. Selama perjalanan tur kami mengelilingi Madura ini, hampir ditiap kota kecamatan mengadakan yang namanya gerak jalan alias baris berbaris. Tapi berbeda dengan yang biasa kami temui di Jawa, gerak jalan disini tidak berdasarkan tingkatan sekolah (SD, SLTP, SMU) dan tidak menggunakan seragam sekolahnya masing-masing, seperti yang biasa kami lihat. Disini semuanya jadi satu, capur aduk. mulai dari anak kecil sampai orang dewasa jadi satu. Dan seragamnya adalah bebas. Sehingga masing-masing team menonjolkan kreasi konstumnya masing-masing. Ada yang berpenampilan modis dengan topi centilnya, busana muslim, wajah coreng moreng layaknya tentara, punk dengan wajah putih seperti band Kuburan, dan masih banyak lagi. Gerakan barisnya pun bebas. Ada yang layaknya orang baris resmi, ada yang seperti jalan santai, ada yang hormat terus, ada yang menampilkan gerakan-gerakan khas. Benar-benar sangat menarik. Dan satu hal yang sangat saya kagumi adalah antusiasmenya. Melihat banyaknya jumlah peserta yang ikut serta dalam acara ini, dan ratusan orang yang berkerumun dipinggir jalan, saya sama sekali tidak bisa menyangga bahwa ini berasal dari kota kecamatan yang tidak begitu besar. Keramaian yang bahkan tidak lagi saya temui dikota saya tercinta, Kediri.

Pawai_6 Pawai_7

Selain gerak jalan, ada juga pawai kendaraan hias, seperti sepeda dan becak hias. Ada juga arak-arakan pawai kostum (jadi ingat acara Kartini-an waktu saya SD dulu), atau pertunjukan jalanan (semacam barongsai, tari-tarian, dll). Suasana benar-benar meriah.

Pawai_3 Pawai_4 Pawai_5

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 3 | 45 |

Posted by: panghalusnya | August 30, 2009

Pantai Slopeng, Segurat Kecantikan yang Tersembunyi

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Pantai Slopeng


Dengan mayoritas warga Madura yang merantau ke luar pulau, ditambah lokasinya yang benar-benar sangat jauh jika kita mengukurnya dari Surabaya, maka bisa dibayangkan minimnya pengunjung obyek wisata yang satu ini. Dari gelagatnya, pemkot setempat pada awalnya melihat potensi wisata yang besar pada obyek wisata yang satu ini, sehingga terlihat bangunan-bangunan pendukung yang lumayan bagus, walaupun saat ini sudah tampak kerusakan disana-sini karena tidak terawat. Lokasi yang sangat jauh ini lah yang membuat harapan pemkot untuk meraup ABPD berlimpah dari obyek wisata ini hanya tinggal impian. Dari Surabaya, dengan sudah adanya jembatan Suramadu-pun, lokasi pantai Slopeng ini bisa dibilang sangat jauh untuk dijangkau. Sekitar 160-180km dijangkau dari sisi manapun. Lokasinya berada dipesisir pantai sebelah utara kota Sumenep.

Tapi justru dengan kondisi seperti inilah sangat menguntungkan untuk penikmat alam seperti kami ini. Kecantikan pantai ini sama sekali belum terusik. Dia secantik kembang desa yang belum terjamah oleh rusaknya kehidupan kota. Karena, bagi saya pribadi, seindah apapun suatu pantai, jika ternyata harus berakhir seperti pantai Kuta di Bali, dimana ratusan pengunjung kleleran disana-sini, dan sampah dimana-mana, maka dimata saya itu menjadi pantai terjelek.

Pantai Slopeng ini memiliki pasir putih (tentu saja itu artinya berwarna kuning) yang semi padat, dimana di belakangnya masih dikelilingi oleh bukit kecil batuan khas pulau madura. Pepohonan semacam palem (saya tidak tahu namanya) menghiasi pesisir pantainya. Lautnya berwarna hijau kebiru-biruan dengan disemarakkan oleh puluhan perahu nelayan yang melempar sauh ditengah sana membuat suasana semakin indah. Garis pantainya sangat panjang sebenarnya, sepanjang lintasan didaerah ini memiliki kondisi pantai yang sama indahnya. Namun untuk yang dikelola ini garis pantainya sekitar 1 km. Dan suasana semakin menyentuh kalbu disaat matahari sore sudah hampir merangkul garis cakrawala. Sayang sekali kami benar-benar dikejar waktu saat ini, sehingga terpaksa harus melewatkan moment yang indah ini.

Disabtu sore ini, penggunjung pantai hanya ada 4-5 pasang muda mudi dan 1 rombongan keluarga saja, ditambah sepasang muda-muda (bukan muda-mudi) yaitu kami tentu saja. Mau teriak teriak dipantai silakan saja. Mungkin yang terganggu hanya pasangan muda-mudi yang sedang saling melancarkan rayuan gombalnya dipinggir sana. Kami benar-benar bisa menikmati keindahan alam pantai ini. Untuk ongkos masuk sepertinya gratis, tidak ada loket, dan kendaraan bisa diparkir dimanapun sesuka hati. Namun penjaga obyek ini sepertinya melihat ada pengunjung yang tidak biasa pada diri kami, maka kami dikenakan biaya parkir Rp.2.000 dan tarif masuk Rp.1.000 untuk satu orang. Tidak ada masalah untuk tarif semurah itu kan.

How to get there :
Dari kota Sumenep, ambil jalan keutara, arah ke Bangkalan/Surabaya melalui jalur utara. Maka kurang lebih 20km perjalanan meninggalkan kota Sumenep Anda akan melewati daerah wisata ini.

Pantai Slopeng_2 Pantai Slopeng_3 Pantai Slopeng_4

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Posted by: panghalusnya | August 30, 2009

Sumenep, Bukti Sejarah Masa Lampau Madura

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |

Sumenep

Sumenep, kota yang terletak paling timur dari pulau garam ini, merupakan kota bersejarah bagi warga Madura. Ditempat inilah dahulu kerajaan Sumenep pernah berjaya. Guratan sisa sejarah masih terlihat dari beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri. Sebut saja, masjid agung Sumenep, keraton Sumenep, dan juga makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.
Ketika kami memasuki kota Sumenep, disana ada baliho besar yang menyebutkan obyek wisata apa saja yang ada di Kabupaten Sumenep ini. Untuk obyek wisata budaya, disebutkan ada Masjid Agung (Jami’) Sumenep, Keraton Sumenep, Makam raja-raja Asta Tinggi, Kerajinan Batik Tulis, dan Karapan Sapi. Untuk obyek wisata alam ada Pantai Lombang, Pantai Slopeng, dan Scuba diving di Kangean yang terkenal itu. Pada kesempatan kali ini, kami hanya sempat mengunjungi 4 dari 8 obyek yang disebutkan disana.

Masjid Agung (Jami’) Sumenep.

Masjid Agung Sumenep

Sebagaimana aturan tata kota mocopat kerajaan di Jawa, lokasi masjid agung ini juga terletak dipusat kota, disebelah barat dari taman kota (alun-alun) kota Sumenep. Kami sempat ragu sebelumnya untuk memasukinya, karena dari luar astitekturnya sama sekali tidak menyerupai masjid. Seperti pintu masuk keraton. Tidak ada kubah maasjid ataupun menara layaknya masjid-masjid yang sering kami temui. Walaupun kami sempat ragu-ragu, kami putuskan tetap memasukinya. Dan benar, ternyata bangunan yang kami masuki ini benar-benar masjid. Bangunan utama masjid tertutup (yang mungkin hanya digunakan ketika jam sholat berjamaah), sehingga bagi orang-orang yang ingin melaksanakan sholat bisa melaksanakan dibagian serambi luar. Arsitekturnya sendiri, bagi saya benar-benar sangat unik, belum pernah saya lihat sebelumnya dimanapun. Saya tidak bisa mendefinisikan sama sekali ini mengadopsi budaya mana. Dan setelah saya cari tahu ternyata memang arsitektur masjid ini adalah gabungan dari budaya Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina.

Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep

Berada di sisi timur dari taman kota Sumenep, berdiri keraton Sumenep. Tidak bisa dibayangkan layaknya keraton Jogja atau Solo, namun walaupun keraton ini sudah tidak dihuni oleh anggota keturunan raja lagi, keraton ini bisa dibilang masih sangat terawat.
Pada saat kami kesini, keraton sedang bersiap-siap mengadakan acara tahun menyambut ulang tahun kemerdekaan RI, yang kabarnya akan mengundang wisatawan mancanegara. Digapura depan sudah banyak pasukan penyambut yang didandani sedemikan rupa. Dan dibagian pendopo sudah bersiap-siap orang-orang yang didandani layaknya raja dan abdi-abdinya untuk pertunjukan. Juga ada para pemegang alat musik gamelan yang sedang berlatih. Dibagian belakang pendopo sudah disiapkan berbagai macam menu makanan untuk para tamu nantinya. Karena kami tamu tak diundang maka kami hanya bisa berkeliling dan memotret sana-sini layaknya wartawan gadungan.

Makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.

Gerbang Asta Tinggi

Ini adalah hal yang paling lucu. Kami tidak tahu apa itu Asta Tinggi pada awalnya. Namun disana-sini banyak petunjuk jalan yang membimbing ketempat ini. Pastilah itu obyek wisata menurut kami. Dan kamipun segera meluncur ketempat ini. Ternyata tempat ini adalah tempat jasad raja-raja Sumenep bersemayam, pesarean (makam) raja-raja Sumenep. Ada 4 rombongan bis besar yang sedang berziarah ketempat ini ketika kami sampai disini. Karena penampilan kami yang tidak karuan, kaos oblong dan jeans yang sudah lusuh, disaat orang lain berbusana muslim, maka kamipun hanya mampir didepan gerbangnya saja.

Pantai Slopeng

Pantai Slopeng, salah satu dari dua pantai terkenal di kabupaten Sumenep. Dimana, mengingat masih minimnya pengunjung yang datang kesini menbuat keindahan dari pantai ini masih tetap terjaga.

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |

Posted by: panghalusnya | August 30, 2009

Perjalanan Panjang 376km Mengelilingi Pulau Madura

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 2 | 3 | 4 | 5 |

Sesuai agenda semula. Hari sabtu tanggal 15 Agustus kita berangkat untuk memulai tur mengitari pulau Madura.

Etape 1 : Mojoarum – Suramadu. 14 km

Rencana awal kami (chimot dan mantos) berangkat pukul setengah 6 pagi. Tapi karena bakat bangun pagi yang susah Mantos, ditambah malamnya kami cangkrukan di warung pecel Pucang hingga pukul 11 malam, jadilah keberangkatan kami kali ini molor. Kami baru bertolak dari rumah saya di Mojoarum pukul 7 pagi. Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun jalanan cukup lengang, hanya diramaikan oleh orang-orang yang sedang jogging pagi saja. Suasana gerbang tol jembatan Suramadu pun bisa dibilang sepi. Tidak ada antrian sama sekali. Bertolak belakang dengan keadaan hingga satu bulan pasca pembukaan yang antriannya hingga mencapai 3 km.
Setelah membayar Rp.3.000, tarif yang dikenakan kepada pengendara sepeda motor (Rp.30.000 untuk kendaraan roda empat atau lebih), kami pun melenggang melintasi jembatan terpanjang di Indonesia ini sepanjang 5,4 km. Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau terbesar di propinsi Jawa Timur ini. Angin berhembus cukup kencang, terutama dibagian main gate dari jembatan Suramadu ini. Pantas saja ada rambu-rambu yang menunjukkan kecepatan minimal diharuskan adalah 60 km/jam dibagian ini untuk pengendara sepeda motor. Dengan tujuan agar pengendara sepeda motor tidak terbawa oleh derasnya tiupan angin. Kami membutuhkan waktu sekitar 15 menit melintasi jembatan ini, dengan kecepatan yang santai, sambil menikmati suasana pagi diatas jembatan yang cukup nyaman.

Etape 2 : Suramadu – Sampang. 74 km

Tol Suramadu

Selepas Suramadu kami dihadapkan lintasan panjang berujung bertemu dengan jalanan utama Bangkalan – Sampang. Lintasan panjang lebih dari 10 km ini jalan baru proyek jembatan Suramadu, sehingga belum ada kehidupan disekitarnya. Hanya ada beberapa penjual bensin eceran dan tukang tambal ban sekitar 1 km sekali. Selepas kami bertemu jalanan utama Bangkalan – Sampang misi berikutnya adalah mencari pom bensin. Karena jarum penunjuk level tangki sepeda motor saya sudah hampir berdamai dengan huruf E. Ketakutan kami adalah isu bahwa di Madura jarang sekali ada pom bensin, membuat kami sudah ingin mengisi ditempat penjual bensin eceran. Namun kami tahan dulu hingga ambang batas minimum. Dan memang, dari hasil kami selama mengelilingi madura ini, pom bensin hanya ada rata-rata setiap 10 km sekali. Itu rata-rata. Kadang 3 km sudah ada. Tapi tidak jarang 15 km baru ada. Tapi jangan salah orang penjual bensin eceran ada dimana-mana. Jangan khawatir. Pintar-pintar saja memilih penjual jika memang khawatir bensin yang dijual tidak murni.
Bisa dibilang perjalanan menuju Sampang ini lengang, cenderung monoton. Karena mungkin saya pribadi terbiasa dengan suasana jalan yang ramai ketika berkendara di Jawa. Disini lalu lalang orang sedikit sekali. Dan kondisi rumah-rumah disekitar jalan raya juga sepi kalau tidak ingin dibilang serasa tak berpenghuni. Namun tepatnya di kecamatan Galis, tiba-tiba saja jalanan menjadi macet, padat tak bergerak. Rupanya didepan sana ada pasar hewan. Dan berpuluh-puluh kendaran penganggut sapi hadir disana. Benar-benar ramai suasanananya. Ada yang sibuk memarkir kendaraaanya. Ada yang sibuk menurunkan sapi-sapinya. Bahkan sapi-sapipun bersliweran dijalan raya, dengan pemiliknya tentunya. Selepas melewati pasar hewan ini, perjalanan pun relatif sepi kembali hingga sampai di Sampang.

Etape 3 : Sampang – Pamekasan. 36 km

Sampang

Sampang, salah satu dari 4 kota besar di Madura adalah kota yang tidak terlalu besar dan ramai untuk ukuran Jawa dimata kami. Sesampainya di Sampang kami langsung mencari warung makan, karena tangki bahan bakar perut kami juga sudah empty. Pilihan kami jatuh kepada warung sate, masakan khas Madura. Harga murah meriah. Satu porsi, terdiri dari sate ayam 10 tusuk dengan nasi putih dikenakan tarif Rp.8.000.
Setelah tangki perut kami kembali full perjalanan kami lanjutkan menuju kota Pamekasan. Dengan sebelumnya kami berencana mampir terlebih dahulu di Pantai Camplong. Salah satu obyek wisata andalan kabupaten Sampang. Keindahan dari pantai yang satu ini adalah lautnya yang tenang dengan warna yang hijau bak jamrud. Sehingga tampak menawan mata, sedikit mengurangi keindahannya. Cobaan sempat hinggap karena ban belakang sepeda motor saya bocor. Seperti ketakutan kami sebelumnya, ban belakang sepeda motor saya yang gundul benar-benar sensitif terhadap benda-benda kecil yang tajam. Dengan menuntun kurang lebih 1 km membuat nasi sate kami terbuang jadi keringat. Perjalanan pun kami lanjutkan setelah itu. Menyisir pantai selatan pulau Madura, yang memiliki laut sangat hijau. Namun kemonotonan kembali menghinggapi perjalanan kami. Jalur yang sepi dan serasa kering (seperti perjalanan ke gresik) membuat Mantos yang berada dibelakang sudah manggut-manggut menabrak helm saya karena mulai kehilangan kesadaran alias mengantuk.
Menjelang memasuki kota Pamekasan jalan padat tak bergerak kembali. Kami menduga ada pasar hewan lagi. Ternyata bukan. Didepan ada pawai arak-arakan menyambut 17 Agustusan. Kami pun memutuskan untuk mencari jalur alternatif.

Etape 4 : Pamekasan – Sumenep. 58 km

Pamekasan

Di Pamekasan kami tidak mampir kemana-mana. Rencana awal kami ingin melihat api abadi Dhangka. Namun karena harus berkejar-kejaran dengan waktu sehingga diputuskan untuk dilewati saja. Ditambah lagi juga karena siang-siang panas, kurang nikmat jika masih harus ditambah dengan menikmati api. Sempat berhenti didepan masjid agung Pamekasan, tapi karena waktu dzuhur masih 20 menit lagi, sehingga kami putuskan perjalanan kami lanjutkan saja.
Perjalanan menuju Sumenep ini melintasi hutan dan naik turun bukit. Semacam alas Roban. Hingga menjelang 10 km terakhir memasuki Sumenep suasana berubah dari menembus hutan menjadi menyisir areal tambak. Suasana benar-benar sangat indah. Seperti jalan yang serasa menembus lautan, dengan pinggir-pinggir jalan banyak pohon-pohon besar menaungi. Kami tergoda untuk berhenti sejenak menikmati suasana ini. Ditambah lagi aliran darah dipantat kami benar-benar sudah berhenti, yang membuat rasanya panas sekali karena otot-otot pantat berontak minta untuk disupply oksigen. Dan ini  menjadi alasan yang tepat untuk berhenti sebagai suatu keharusan. Setelah puas menikmati suasana dan beristirahat sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan yang tinggal 6 km menuju kota Sumenep.

Etape 5 : Sumenep – Bangkalan. 161 km

Sumenep

Sumenep, kota inilah tujuan utama kami. Banyak sekali obyek wisata andalan pulau Madura yang berada di kabupaten ini. Selain itu kota Sumenep merupakan kota yang sangat bersejarah bagi warga Madura. Dikota ini kami singgah di Masjid Agung Sumenep untuk menunaikan kewajiban sholat Dzuhur sekaligus untuk rehat sejenak meluruskan tulang punggung yang sudah bengkok tidak karuan, kemudian dilanjutkan ke keraton Sumenep, dan terakhir ke makan para raja-raja Sumenep, Asta Tinggi. Karena waktu sudah semakin sore dan kami harus menempuh perjalanan pulang yang sangat-sangat panjang, maka kamipun bertolak melakukan perjalanan pulang. Sempat terbersit keinginan untuk mengunjungi pantai Lombang, pantai yang kabarnya sangat indah terkenal hingga mancanegara, obyek andalan kota Sumenep. Namun mengingat letaknya masih 30 km sebelah timur laur kota Sumenep dan ditambah lagi itu berlawanan dengan jalur pulang kami, maka kami putuskan untuk tidak usah kesana. Cukuplah diwakili oleh pantai Slopeng, pantai tandingan, yang akan kami lewati dalam perjalanan pulang kami. Eksotisme dari pantai Slopeng ini menjadi suntikan energi baru bagi urat-urat ditubuh kami yang sudah mencapai kelelahan.
Perjalanan pulang kami ini menyusuri pantai utara dari pulau madura, yang pemandangan indahnya membuat mata kami terjaga untuk tetap segar. Ini adalah etape terpanjang dari perjalanan ini. Dipesisir utara pulau Madura ini tidak ada kota-kota besar seperti halnya Sampang, Pamekasan dan Sumenep, namun jangan salah, kota-kota kecilnya ini sangat ramai, paling tidak ketika adanya acara pawai 17 Agustus ini. Ditiap kota kecamatan ada lomba gerak jalan. Juga pawai kendaraan hias. Dan beberapa kali kami harus terjebak kemacetan karenanya. Putar sana putar sini tetap efeknya sama saja. Tetap menemui keramaian. Mulai dari Ambunten, Pasongsongan, hingga Sokabana kami harus bersabar menghadapi kemacetan. Di kota kecamatan Ketapang sudah tidak terjebak lagi, karena hari sudah menjelang maghrib, namun bekas dari keramaian masih ada disana.
Gelap pun tiba. Dan ini menjadi siksaan baru. Karena lampu sepeda motor saya sudah sangat redup, dimana lampu dekatnya sudah mati, tersisa lampu jauh dan itu sangat mendongak, sedikit sekali membantu penglihatan malam. Kami mengandalkan bantuan dari kendaraan lain yang lewat. Ada mobil lewat kami membuntuti dibelakangnya. Tapi karena kendaraan tersebut melaju dengan kecepatan yang kencang, sayapun juga harus menggeber gas sekencang-kencangnya agar tidak ketinggalan. Aneh juga. Disiang hari saya maksimal hanya 70 km/jm. Namun dimalam hari dengan keadaan hampir buta ini saya malah ngebut tidak karuan. Hampir 100 km/jam. Shogun saya rasanya sudah meronta-ronta tidak tahan. Namun karena mobil-mobil tersebut lebih sering tidak terkejarnya, maka ketika sudah tidak terkejar lagi kami pun berjalan pelan-pelan lagi menunggu mobil berikutnya. Disaat seperti itu kami hanya lebih banyak mengandalkan insting daripada mata. Tidak ada lampu jalan, lampu sepeda motor yang tinggal setengah watt, tidak adanya kehidupan dipinggir-pinggir jalan, membuat suasana hampir gelap total. Pernah kami hampir jalan terus padahal jalanan menikung. Dan itu terjadi berulang kali. Pada saat kami kebut-kebutan membuntuti mobil didepan kami, satu yang kami kagumi, jalan aspalnya benar-benar mulus. Hampir tidak ada cacat sedikitpun. Membuat acara kebut-kebutan kami ini tetap lancer. Kami tidak perlu terjerumus kedalam lobang jalan raya yang tidak kami lihat. Acara gelap-gelapan ini berakhir ketika kami memasuki Bangkalan. Denyut kehidupan mulai terasa keras. Dan itu berarti penerangan yang cukup.

Etape 6 : Bangkalan – Mojoarum. 36 km
Di Bangkalan kami cuma lewat saja. Selain tidak ada hal yang ingin kami singgahi disana, hari juga sudah malam, fisik sudah sangat lemah, perut juga sudah demo minta di isi. Tepat dipersimpangan menuju jembatan Suramadu, tempat dimana kami pagi tadi berangkat dari titik ini menuju kearah timur, dan kami sekarang kembali dari arah barat, ada keharuan tersendiri. Kami benar-benar sudah satu putaran penuh. Saatnya untuk pulang.
Sebelum pulang ke rumah saya di Mojoarum, kami isi perut dulu di warung bebek super depan tugu pahlawan untuk merayakan perjalanan kami kali ini. Warung adalan saya kalau lagi minta traktir Mantos ketika mampir ke Surabaya (tuan rumah yang minta traktir). Wajah yang seperti topeng karena debu jalanan yang menempel, bau badan yang tidak karuan, tidak kami pedulikan ketika mengantri dengan puluhan orang lainnya, karena demonstrasi diperut semakin menjadi-jadi. Dan benar, rasa bebeknya yang biasanya saja sudah sangat nikmat, kali ini terasa 2x lebih nikmat. Tiba dirumah, langsung ambil posisi tengkurap semua. Meluruskan tulang punggung biasanya dengan cara tidur terlentang, tapi kali ini tidak bisa. Karena pantat sudah emosi. Tidak bisa diajak untuk bersentuhan dengan apapun. Mereka benar-benar berontak meminta kebebasan. Dengan semakin terbangnya kami kealam mimpi, maka perjalanan kami mengitari pulau Madura sepanjang 376 km selama 13 jam pun berakhir.

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 2 | 3 | 4 | 5 |

Posted by: panghalusnya | August 30, 2009

Rencana Gila Menyambut Libur Panjang 17 Agustus

ROUND TRIP MADURA SERIES   |  12 | 3 45 |

Pantai Slopeng_4

Liburan panjang 17 Agustus kali ini sebenarnya ada agenda dari engineear untuk camping di pulau semak daun. Dan saya adalah salah satu yang sangat antusias, mengingat kerinduan karena sudah lama tidak camping (terakhir camping di sempu) dan juga karena ingin snorkeling disana. Namun karena ada tugas ‘kenegaraan’ hingga jumat sore dan permasalahan teknis akhirnya saya memutuskan untuk tidak jadi ikut.

Saya tidak punya agenda liburan dengan batalnya keikutsertaan saya di semak daun tersebut, namun tiba-tiba masuk sms dari Mantos – yang sejak semula berhalangan untuk ikut agenda semak daun karena harus mudik – yang mengatakan bahwa sepulangnya dari dinas di Bali dia mau mampir ke Surabaya sebelum akhirnya mudik kerumahnya di Klaten. Selain ada agenda mau menemui kolega bisnis, Mantos minta diantarkan ke jembatan Suramadu. Ini terkait dengan perdebatan sengit kita sebelumnya dengan adanya isu berhembus bahwa jembatan Suramadu adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dan tentang panjang jembatan Suramadu yang masih kalah dengan jembatan Penang yang pernah kami lalui dulu.

Dan segalanya pasti tidak akan menjadi se-simple itu jika dua otak gila kami bertemu.

Daripada mung bolak balik nglewati jembatan, mending dolan sekalian wae nang Meduro
(daripada cuma balok balik melewati jembatan, mending jalan-jalan sekalian di Madura)

Sing paling apik nang Meduro kui Sumenep, piye lak rono mesisan ae
(yang paling bagus di Madura itu adalah Sumenep, bagaimana kalau kesana sekalian.”

Aseeeem, tas delok peta aku, ternyata Sumenep kui adoh tenan. Diterusne po gak iki?
(sialan, baru lihat peta aku, ternyata Sumenep itu jauh sekali, diteruskan apa tidak ini?)

“Lanjut.”

Peh, aku males lak mbalik melalui jalur yang sama, piye lak mbalike liwat jalur utara wae?
(Aku males kalau harus kembali melalui jalur yang sama, bagaimana kalau kembalinya melalui jalur utara saja?)

Jadilah agenda tur mengitari pulau madura dimulai. Mengitari. Alias mengeliling pulau. Bukan Cuma pulang pergi. Kami tahu itu mungkin jauh. Tapi tidak menyangka bakal sejauh ini. Perjalanan kali ini mungkin terasa semakin berat dari sisi mental, karena kendaraan yang digunakan adalah sepeda motor saya, shogun ’97 yang gear dan rantainya sudah aus ditambah ban belakang yang sudah sangat gundul. Suntikan energi yang saya berikan hanya sekedar mengganti olie saja sehari sebelum keberangkatan.

Dan mungkin tidak banyak yang dapat kami ambil pada perjalanan kali ini, karena kami hanya melintasi kota-kata yang kami lalui, tanpa menggeledahnya begitu dalam. Namun ada eksotisme tersendiri yang kami temui selama dalam perjalanan tersebut, baik itu alam dan juga kehidupan. Kehidupan dibumi orang madura, golongan orang yang sering mendapat pandangan tidak adil dan miring dari golongan yang lain.

ROUND TRIP MADURA SERIES   |  12 | 3 45 |

Posted by: engineear | August 30, 2009

H+1: Hua Lamphong “When StupidEAR meet Exotic Girl”

Hua Lamphong 4

Tempat ke tiga yang harus kami datangi hari itu (17 Mei 2009) adalah ke stasiun KA Hua Lamphong, stasiun KA Utama di Bangkok di distrik Panthum Wan. Kami ke sana bertujuan membeli tiket PP kelas bisnis ke Chiang Mai untuk tanggal 18 Mei 2009. Dari Surasak BTS Station kami menuju BTS-MRTA Connection terdekat, yaitu Sala Daeng – Silom. Dari Silom kami melanjutkan perjalanan menggunakan MRT ke titik awal jalur MRT, Hua Lamphong.

Keluar dari MRT Statiun kami langsung mendapat akses masuk terdekat di sisi barat stasiun KA yang mulai beroperasi sejak 25 Juni 1916 tersebut. Saat itu stasiun sedang ramai dengan para calon penumpang yang sedang menunggu pemberangkatan maupun yang sedang antri membeli tiket. Kami langsung melihat-lihat schedule board untuk merancang strategi ke Chiang Mai. Sekitar 15 menit kami masih bingung cara membaca jadwal, akhirnya kami dengan malu-malu meminta tolong seorang petugas Tourism Center.

Petugas Tourism Center adalah seorang cewek dengan ciri-ciri fisik cewek siam tulen. Dia begitu antusias membantu kami. Tidak jarang dia harus jalan ke sana kemari untuk memastikan rencana kami terlaksana. Kesabarannya cukup diacungi jempol, karena dengan english kami yang kacau dia mau mendengarkan dengan sabar semua keinginan kami. Hampir setengah jam kami bersama dia, akhirnya kami mendapatkan tiket Chiang Mai- Bangkok PP yang optimal, harga dan jadwal pas. Kami sempat bingung, dia itu agen pemerintah atau swasta, bagaiman cara membayar jasanya. Kami pun bertanya dengan hati-hati agar dia tidak tersinggung. Ternyata dia menolak, katanya ini sudah merupakan tugas dia. Hmmm……….terlihat kepribadiannya sangat mengagumkan, selaras dengan fisiknya yang menakjudkan….sampai membuat kami ber-6 jatuh hati ( lebay…huahahahaha ). Kata Chimot, Malaikat tidak selalu bersayap, tapi selalu cantik……….

Ngomong-ngomong mengenai stasiun KA Hua Lamphong, stasiun ini didesain dengan gaya Neo-Renaissance. Sebagai stasiun utama, stasiun ini memiliki 14 peron ( dua kali lipat dari Stasiun Jakarta Kota ), 26 loket dan melayani pemberangkatan 130 KA. Meskipun mayoritas warganya beragama Buddha, kami bisa menemukan fasilitas mushola. Di Bangkok tarif warnet sangat mahal, 10 THB per 15 menit, setara dengan IDR 12.000 per jam. Tidak seperti stasiun KA di Indonesia, di sini tidak ada pemeriksaan karcis untuk masuk peron. Para calon penumpang yang waktu pemberangkatan masih lama akan menunggu di lobi utama stasiun yang begitu luas. Tidak sungkan-sungkan mereka pun juga tidur-tiduran di lantai jika tidak mendapatkan kursi tunggu. Tidak ketinggalan, sebagai fasilitas umum, di atas pintu masuk peron terdapat foto raja dan permaisuri yang mereka cintai.

Hmmm…. tiket udah ditangan, saat melanjutkan jalan-jalan kembali. Tujuan selanjutnya adalah Khaosan Road, pusat backpacker international di Thailand

Posted by: engineear | August 30, 2009

H+1 : Chatuchak Weekend Market

Minggu, 17 Mei 2009

Clock Tower Chatuchak

Pukul 8.00 am/ 7.00 WIB, kami selesai mempersiapkan diri , tinggal sarapan. Di Suk 11, tempat kami menginap disediakan sarapan. Makanan yang disediakan berupa roti dengan berbagai selai, buah dan ketan dan disajikan secara prasmanan. Namun selain sarapan yang disediakan kami ber-6 sarapan pop mie, bekal dari Indonesia. Selesai sarapan kami lamgsung menuju Sukhumvit MRT Station.

Kali ini kami ingin ke Chatuchak Weekend Market, sebuah market yang hanya dibuka di hari Minggu saja. Menurut informasi di situlah para turis atau warga Thailand bisa mendapatkan berbagai barang dengan harga yang sangat miring.Untuk menuju kesana kami menggunakan MRT dari Sukhumvit turun di Chatuchak MRT Station.

Sesampai di Chatuchak MRT Station, kami menyempatkan diri dulu mengunjungi Chatuchak Park. Di taman ini banyak orang yang menawarkan penyewaan tikar dan selain itu digunakan untuk berolahraga jogging atau lari pagi. Sebenarnya kami kesini karena kesalahan baca map. Ternyata untuk mencapai pasar tidak perlu masuk dulu taman ini :D . Ketika sadar akan kesalahan , kami pun bertanya pada warga dimana posisi sebenarnya pasar itu, dan akhirnya pun kami bisa menemukan pasar itu.

Dari depan gerbang masuk sudah terlihat banyaknya pengunjung. Chatuchak Weekend Market ini merupakan pasar akhir pekan terbesar di dunia. Berbagai barang bisa ditemukan disini dari baju, handycraft, perlengkapan furniture, barang antik sampai hewan peliharaan berserta asesorisnya. Tentu saja kita tetap harus melakukan penawaran untuk mendapatkan harga yang cocok, walaupun bisa dikatakan harga disini hampir setengah harga dari tempat lain. Betul-betul sebuah tempat yang harus dikunjungi bagi mereka yang ke Bangkok dengan tujuan shopping. Tidak mengherankan jika menajemen setempat meng-claim sejumlah 300.000 pengunung setiap akhir pekan.

Dengan 26 section ternyata cukup membuat kaki kami pegal. Padahal tujuan kami hanya untuk beli kaos dan gantungan kunci, maklum budget mepet banget. Rata-rata penjualnya bisa berbahasa Inggris, walaupun mungkin tidak terlalu baik, namun cukup bisa dimengerti dalam percakapan penawaran harga.

Setelah puas belanja di weekend market ini, kami melanjutkan perjalanan mencari Masjid Jawa di daerah Surasak.

Catatan :

  1. Jika menggunakan MRT, turun di Chatuchak Park atau turun di Mochit jika menggunakan BTS Shukumvit Line
  2. Usahakan sedikit menggunakan bahasa Thailand, anda akan mendapatkan harga yang lebih optimal
  3. Pastikan anda memulai penawaran dari 50 % dari harga yang ditawarkan

Sabtu, 16 Mei 2009

Live Performance at Suan Lum

Live Performance at Suan Lum

Selesai membersihkan diri, kami ber-6 langsung melaksanakan rencana pertama, yaitu mengunjungi Suan Lum Night Bazar, sekalian makan malam. Suan Lum merupakan salah satu night bazaar yang terkenal di Bangkok. Kata “ Suan “ berarti taman dalah bahasa Thailand, sedang “ Lum “ mungkin dari kata Lumpini, daerah dimana bazaar ini berlokasi.

Dari hostel kami menyusuri trotoar Sukhumvit Rd untuk menuju Sukhumvit MRT Station. Untuk mencapai Sukhumvit MRT Station kami harus berjalan kaki kira-kira 200 meter dari hostel. Saat menyusuri trotoar Sukhumvit Rd kami harus melewati padatnya trotoar oleh pejalan kaki dan banyaknya pedagang kaki lima yang menjual berbagai pernak-pernik yang berbau Thailand atau sekedar menjual jenis makanan yang dibakar dan buah. Sebenarnya kami ingin mencoba tapi takut tidak halal.

Perjalanan dengan MRT dari Sukhumvit ke lokasi bazaar hanya sekitar 10 menit. Kami turun di Lumpini MRT Station. Keluar dari stasiun kami langsung menjumpai gapura bertuliskan Suan Lum Night Bazar. Bazaar yang dibuka jam 05.00 pm hingga tengah malam ini dipenuhi deretan kios-kios yang menjual kaos, baju, handycraft dan pernak-pernik Thailand lainnya. Mengenai harga, ketika kami bertanya, tidak bisa dikatakan murah ato malah bisa lebih mahal dari tempat lain dengan barang yang sama. Jadi semua tergantung kemampuan kita menawar. Selain itu juga terdapat berbagai kios yang menawarkan jasa dan ada pula bar maupun restaurant.

Bazaar yang dikemas dalam bentuk city walk ini teroganisir dengan baik. Hal itu bisa dilihat dari pembagian kios menurut barang yang dijual. Kebersihannya pun patut diacungi jempol. Selain itu penataan lampu sebagai penerang atau sekedar hiasan memberikan effect cahaya yang mengesankan bagi pengunjung bazaar ini.

Malam itu kami makan out door food court yang biasa disebut Beer Garden, satu bagian dari Night Bazar bagi turis lokal maupun mancanegara menikmati minuman bir dengan skala besar. Di depannya terdapat panggung yang besar untuk pertunjukan langsung musik dan dancing dengan permainan lampu yang lumayan. Selain untuk menikmati beer, di sini juga untuk menikmati makanan khas Thailand maupun masakan dari negara lain seperti China, India atau Jepang. Di sebelah kiri panggung terdapat deretan kios-kios yang menjual makanan sedang sebelah kanan kios menjual aneka minuman, money changing dan tempat pembelian kupon untuk transaksi pembelian makan dan minum di situ. Tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada tempat lain.

Sambil makan malam kami menikmati sajian musik dengan penyanyi cewek serta penari latar berpakaian cukup terbuka. Waktu menunjukan pukul 09.00 pm, saatnya kami kembali, karena MRT terakhir pada pukul 10.00 pm. Selain itu kami harus segera beristirahat ( meskipun kami masih ingin melekan karena saking senangnya bisa ke LN :D ), karena besok kami berencana mengunjungi beberapa spot menarik di Bangkok, salah satunya Cathucak. Sebenarnya ada yang terlewat dari kunjungan kami di sini, yaitu naik Ferris Wheels, semacam wahana Bianglala kalo di Dufan.

Oiya dalam perjalanan menuju hostel kami menjumpai cewek-cewek dan waria yang sedang menjajakan diri. Hmm……………………?

Catatan :

  1. Tersedia banyak Taxi dan Tuk-tuk untuk perjalanan pulang
  2. Fasilitas Money Changing hanya sampai 10.00 pm
  3. Jika menggunakan MRT, turun di Lumpini atau turun di Sala Daeng jika menggunakan BTS Silom Line
  4. High bargaining skill is required untuk dapetin harga yang cocok
  5. Jangan lewatkan Ferris Wheels
  6. Berkunjunglah saat weekend jika ingin suasana yang ramai di bazaar

Older Posts »

Categories